PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI AKADEMIK PERGURUAN TINGGI
BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
Oleh: Etin Indrayani
(Dosen IPDN, Mahasiswa S3 Adpend UPI)
ABSTRAK
Efektivitas
aplikasi TIK dalam proses manajemen kelembagaan sering terhambat oleh banyak
faktor non teknis yang tidak dipersiapkan lembaga. Mulai dari penyiapan orang,
budaya, mekanisme organisasi, bahkan teknis pemeliharaannya. Tak selamanya SIA
yang berbasis TIK bisa meningkatkan kinerja pengelolaan administrasi akademik,
manakala lembaga hanya menganggap bahwa implementasi TIK untuk SIA hanya
sekedar menyiapkan perangkat keras TIK. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti
sejauhmana sumbangan efektivitas manajemen SIA (X1), budaya TIK (X2), ketersediaan fasilitas TIK
(X3),
dan kualitas SDM SIA (X4) terhadap kinerja perguruan
tinggi (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik,
populasi dalam penelitian ini melibatkan 22 perguruan tinggi yang ada di Kota
Bandung yang mengadaptasikan TIK dalam sistem administrasi akademiknya dan yang
mengelola program strata-1 (S1). Untuk sampel kelembagaan, dengan menggunakan Proportionate
random sampling (Sampel Acak secara Proporsional), didapat 18
perguruan tinggi yang terdiri dari 8 universitas, 3 institut, dan 7
sekolah tinggi. Sampel dosen dan mahasiswa masing-masing sebanyak 988 orang
dosen dan 1579 orang mahasiswa. Alat pengumpul data yang digunakan adalah
angket yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Data yang telah
terkumpul dianalisa dengan analisis deskriptif analitik, sedangkan pengujian
hipotesis menggunakan analisis jalur atau path analysis. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa menurut manajemen lembaga, semua variabel secara
bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y sebesar 71,35%.
Menurut dosen berpengaruh signifikan dengan besarnya sumbangan sebesar 77,5%,
dan menurut mahasiswa berpengaruh signifikan sebesar 83,0%.
Kata kunci: Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Sistem Informasi
Akademik, Budaya TIK, Fasilitas TIK, SDM SIA, Kinerja
PENDAHULUAN
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) pada bidang layanan administrasi
akademik
di perguruan tinggi menjadi suatu kebutuhan, bukan hanya sekedar prestise atau
lifestyle manajemen pendidikan tinggi modern. Namun
dalam implementasi-nya, banyak kendala
yang
ditemui perguruan tinggi dalam menerapkan TIK dalam proses pengelolaan
kelembagaan ini
baik
faktor teknis maupun non teknis.
Penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik
lembaga pendidikan tinggi akan
bermuara
pada meningkatnya kinerja lembaga pendidikan tinggi dan kualitas produk.
Kebijakan
ini
akan bermakna manakala dikaitkan dengan upaya pemenuhan layanan manajemen
lembaga
pendidikan
yang bermutu, program pengajaran yang bermutu, fasilitas pendidikan yang
bermutu,
dan
staf pendidikan yang bermutu pula.
Terkait dengan konteks kekinian,
pemanfaatan TIK dalam pelaksanaan kebijakan penguatan
tata
kelola, akuntabilitas, dan citra publik lembaga pendidikan tinggi, implementasi
sistem
informasi
dalam pelayanan manajemen pendidikan tinggi sudah tentu bisa dikatakan sangat
tepat.
51 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
Pada
prakteknya, hampir bisa ditemui di banyak perguruan tinggi implementasi Sistem
Informasi Manajemen (SIM) bisa didapati dengan berbagai bentuk, baik yang
sangat sederhana bahkan sampai dengan tingkat kerumitan yang sangat tinggi.
Efektivitas implementasi TIK
dalam pengelolaan perguruan tinggi perlu mendapat perhatian yang lebih
mengingat perannya yang cukup sentral dalam proses pengambilan keputusan
manajerial ataupun keputusan-keputusan lainnya. Untuk meningkatkan efektivitas
implementasi ini, yang jelas akan berpengaruh pada efektivitas pencapaian
penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan lembaga, maka faktor-faktor yang
berpengaruh pada efektivitas implementasi TIK pada pengelolaan kelembagaan,
khususnya dalam hal administrasi akademik perlu diteliti lebih lanjut. Ini
ditujukan agar proses manajemen akademik di perguruan tinggi menjadi lebih
efektif dan efisien sehingga mampu menunjang pencapaian kinerja tinggi dari
lembaga.
Selanjutnya dengan
memperhatikan hal-hal tersebut diatas, penelitian ini mencoba untuk memperoleh
data empirik yang cukup lengkap dan dapat dipercaya untuk menggambarkan tentang
keadaan faktor-faktor yang terkait dengan pengelolaan Sistem Informasi Akademik
berbasis TIK terhadap kinerja perguruan tinggi dan dampaknya terhadap prestasi
akademik mahasiswa. Data yang telah diperoleh juga dapat digunakan untuk
mengembangkan alternatif model Sistem Informasi Manajemen Akademik yang dapat
memberi dukungan pada setiap proses pelayanan akademik maupun pengambilan
keputusan baik di lingkungan internal maupun yang terkait dengan stakeholders.
Hal ini dipandang penting dalam rangka mensinkronkan dinamika kebutuhan
pengguna informasi dan dinamika perkembangan sistem informasi manajemen sebagai
penghasil informasi bagi keperluan berbagai pelayanan dan pengambilan keputusan
KAJIAN
PUSTAKA
Berdasarkan entitas dan propertiesnya, sistem informasi
akademik merujuk pada seperangkat sistem dan aktivitas yang digunakan untuk
menata, memproses, dan menggunakan informasi sebagai sumber dalam organisasi
(Sprange & Carlson, 1982). Adapun keluaran berupa informasi yang dihasilkan
oleh sistem ini akan mensuplai informasi kepada para pimpinan atau pembuat
keputusan yang dapat diklasifikasikan pemanfaatan dan maksud yang berbeda-beda
(dalam Levin, Kirkpatrick, Rubin, 1982) seperti di bawah ini: (a) Sistem
informasi akademik untuk menghasilkan laporan di berbagai bidang kegiatan
seperti akademik, keuangan, personel, distribusi mahasiswa di berbagai jurusan,
dan lain-lain; (b) Sistem informasi akademik untuk menjawab pertanyaan “what
if”. Sistem informasi ini memanfaatkan informasi tersimpan yang perlu untuk
mempertimbangkan konsekuensi tindakan; dan (c) Sistem informasi akademik untuk
mendukung pengambilan keputusan, evaluasi, dan pengembangan sistem. Sistem ini
mensuplay informasi untuk semua jenjang organisasi perguruan tinggi.
Dalam kenyataannya, sistem informasi akademik sering
ditafsirkan salah. Kesalahan tafsir ini berpangkal pada dua hal; pertama,
sistem informasi sering diartikan hanya sebagai komputerisasi pekerjaan
ketatausahaan; dan kedua, sistem informasi diartikan hanya sebagai “an
52 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
all
knowing computer which will provide answer and decision for complex problems
when a manager simpley presses a few buttons” (Murdick dan Ross, 1982).
Secara spesifiki, sistem informasi akademik memiliki
beberapa karakter yang cukup luas, yaitu: (a) Sistem informasi akademik
bermakna sebagai pendekatan-pendekatan dalam melakukan proses manajemen; (b)
Komputer hanya merupakan komponen, atau alat bukan fokus sentral dari sistem
informasi akademik; (c) Pimpinan berperan aktif dalam rangka sistem sebagai
pengguna informasi bukan sebagai tenaga teknis ataupun operator komputer; dan
(d) Esensi sistem informasi administrasi terletak pada sistem terpadu dan
sistem terencana, bukan hanya urusan mekanisme pengolahan data.
Sebagian besar keputusan manajemen yang ada dalam
penyelenggaraan perguruan tinggi, sebagai mana lembaga-lembaga profit lainnya,
bersifat berulang dan rutin. Menurut sebuah survei (Murdick dkk. 1995)
menyebutkan bahwa sekitar 90% dari keputusan manajemen merupakan keputusan
rutin. Jika mengacu pada survei di atas, maka sudah saatnya perguruan tinggi
memiliki kebutuhan mendesak mengotomasi atau memprogram-kan keputusan-keputusan
itu. Dengan bisa diprogramkannya keputusan-keputusan manajerial di perguruan
tinggi, maka para pimpinan di setiap unit bisa mencurahkan pekerjaan mereka
kepada pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya yaitu mengambil keputusan-keputusan
jangka panjang dan mencari upaya peningkatan mutu layanan lembaga jangka
panjang.
Sistem Informasi Akademik (SIA)
dihimpun dari berbagai macam data yang dikelola dan diproses se-otomatis
mungkin dengan alat dan metoda sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan
bagi terlaksananya kegiatan akademis. Sistem ini dibagi ke dalam beberapa
subsistem:
(a)
Seleksi dan registrasi mahasiswa baru; (b) Kurikulum dan bidang studi; (c)
Perkuliahan, tugas, ujian; (d) Pengelolaan dan pengembangan dosen; dan (e)
Kelulusan, wisuda, alumni
Penggunaan TIK dalam mendukung proses ini merupakan salah
satu bentuk kepekaan lembaga dalam mencapai kesuksesan. Terkait dengan kepekaan
ini, Webb dan Pettigrew (Hoyt, 2007: 1) menyatakan bahwa kepekaan lembaga
(organizational responsiveness) merupakan isu utama yang menentukan kesuksesan
dalam berusaha. Selain itu, Kuratko et. Al (2001: 44) dan Liao et. Al. (2003)
juga menyatakan bahwa kemampuan lembaga dalam menjawab perubahan lingkungan
dunia luarnya merupakan faktor utama yang menentukan kinerja lembaga. Kepekaan organisasi
membuat lembaga mampu mendeteksi secara dini perubahan pasar, merancang ulang
proses transformasi yang selama ini telah berjalan dalam rangka memenuhi
tuntutan pasar, berbagai informasi dengan dunia luar, mengambil keuntungan
maksimal dari sistem informasi, dan lebih dahulu dalam mengadopsi proses dan
produk teknologi baru dalam rangka memenangkan kompetisi. Maka dari itu,
pemahaman kondisi lembaga dalam berkontribusi, mendukung, atau kemampuan
merespon secara cepat dan efektif merupakan langkah kritis dalam rangka
menyesuaikan dengan tuntutan lingkungannya ( Daft et al., 1988).
Adapun nilai yang ditawarkan oleh TIK pada perguruan tinggi
antara lain: (1) Pendaftaran secara online menggunakan website,
sehingga calon mahasiswa di seluruh dunia dapat
53 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
melakukannya
tanpa harus secara fisik datang ke perguruan tinggi yang bersangkutan; (2) FRS
online yang memungkinkan administrasi pengambilan mata kuliah dilakukan
dimanapun dengan menggunakan perangkat digital seperti komputer, PDA (Personal
Digital Assistant), tablet PC, dan lain sebagainya; (3) Peserta didik
(mahasiswa) dapat melihat nilai ujian maupun hasil akhir studi melalui internet
atau perangkat telepon genggam yang dimilikinya; (4) Manajemen kelas mulai dari
pengalokasian mata kuliah dan pengajar sampai dengan absensi mahasiswa
dilakukan secara otomatis dengan menggunakan aplikasi khusus; (5) Sistem
dokumentasi dan kearsipan yang tersimpan dalam format elektronik secara rapi
dengan meggunakan perangkat aplikasi berbasis EDMS (Electronic Document
Management System); (6) Pengelolaan sumber daya manusia yang terintegrasi
menyangkut rekam data dan informasi mahasiswa, dosen, dan alumni;
(7)
Pustaka buku dan jurnal ilmiah yang dapat diakses dari manapun dan kapan pun
(24 jam sehari, 7 hari seminggu); (8) Sistem informasi terpadu yang terkait
dengan fungsi pemasaran, administrasi, sumber daya manusia, keuangan dan
akuntansi, pengelolaan aset, dan alin sebagainya; (9) Administrasi terpadu
antar perguruan tinggi agar mahasiswa dapat mengambil mata kuliah antar
fakultas maupun antar perguruan tinggi yang berbeda; (10) Aplikasi pelaksanaan
riset dan pelayanan masyarakat yang dimulai dari proses pengajuan proposal sampai
dengan evaluasi hasil kajian maupun pelaksanaan program terkait; (11) Perangkat
lunak untuk mengatur sistem penjenjangan karir karyawan maupun kepangkatan
dosen; (12) Portal informasi yang yang memudahkan para civitas akademik
perguruan tinggi mencari berbagai data dan informasi penting di perguruan
tinggi maupun pada institusi mitra lainnya; dan (13) Alat penunjang mahasiswa
dalam membuat dan mengevaluasi rencana studinya dan lain sebagainya.
Menurut Lasar (2008)
mengidentifikasi dua faktor penghambat ini, yaitu: faktor teknis dan non
teknis. Faktor teknis meliputi: (1) Teknologi dan infrastruktur.
Manajemen Sistem Informasi Akademik membutuhkan perangkat komputer, jaringan
internet dan teknologi yang tepat. Persoalan saat ini adalah belum semua
Perguruan Tinggi memiliki teknologi dan infrastruktur tersebut, terutama di
daerah pelosok; (2) Desain materi. Penyampaian konten-konten data
akademik melalui Sistem Informasi Akademik perlu dikemas dalam bentuk yang
berpusat pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran (mahasiswa-dosen-stakeholder).
Saat ini masih sangat sedikit desainer Sistem Informasi Akademik yang
berpengalaman dalam membuat suatu paket Sistem Informasi Akademik yang memadai;
(3) Finansial. Persoalan finansial merupakan masalah yang pelik di
Indonesia. Pengadaan fasilitas Sistem Informasi Akademik membutuhkan anggaran
yang tidak sedikit dan hal ini belum tentu dapat dijangkau oleh semua lembaga
pendidikan di Indonesia; (4) SDM. Sumber Daya Manusia yang mampu dan
terampil dalam mendukung penerapan Sistem Informasi Akademik masih terbatas,
terutama di Luar Jawa.
Faktor non-teknis meliputi
: (1) Budaya. Pemanfaatan Sistem Informasi Akademik berbasis TIK
membutuhkan budaya akses dan belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar
atau mengikuti perkembangan melalui komputer/internet. Persoalan saat ini,
apakah budaya belajar mandiri telah dimiliki oleh semua pihak yang terkait
dengan proses Sistem Informasi Akademik pembelajaran,
54 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
yaitu staff, dosen, dan
mahasiswa; (2) Buta teknologi (technology illeteracies). Kalau jujur,
masih banyak, staf administrasi, bahkan praktisi pendidikan dan mahasiswa yang
belum menguasai teknologi komputer dan internet, atau yang terkait dengan ICT
lainnya. Hal ini sebenarnya bukan hanya dikarenakan tidak adanya minat atau
kemauan untuk belajar, tetapi juga diakibatkan oleh tidak adanya fasilitas
komputer dan layanan internet yang memadai atau ketiadaan biaya ongkos
internet, khususnya yang kurang mampu secara finansial (daerah pelosok).
Permasalahan
yang bisa dirumuskan dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh
efektivitas manajemen sistem informasi akademik, budaya TIK lembaga,
ketersediaan fasilitas, dan kualitas SDM sistem informasi akademik terhadap
kinerja perguruan tinggi se-kota Bandung.
Selanjutnya dari rumusan di atas, untuk kepentingan
penelitian dijabarkanlah rumusan tersebut kedalam pertanyaan penelitian di
bawah ini: (1) Apakah ada pengaruh langsung antara faktor-faktor penentu
kinerja lembaga yang berasal dari pengelolaan sistem informasi akademik
(efektivitas manajemen SIA, Budaya TIK, Fasilitas TIK dan kualitas SDM SIA)
secara simultan terhadap kinerja lembaga serta pengaruhnya terhadap prestasi
akademik mahasiswa, sementara pengaruh secara parsial meliputi: (1) Seberapa
besar pengaruh efektivitas manajemen Sistem Informasi Akademik terhadap kinerja
lembaga?; (2) Seberapa besar pengaruh budaya TIK terhadap kinerja lembaga?; (3)
Seberapa besar pengaruh ketersediaan fasilitas TIK terhadap kinerja lembaga?;
dan (4) Seberapa besar pengaruh kualitas SDM Sistem Informasi Akademik terhadap
kinerja lembaga?; dan (2) Apakah ada pengaruh tidak langsung antara efektivitas
manajemen SIA, budaya TIK, ketersediaan fasilitas SIA dan Kualitas SDM SIA
terhadap kinerja lembaga?
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka penelitian
yang dilaksanakan ini bertujuan untuk:
1.
Menjelaskan
pengaruh langsung dan tidak langsung antara faktor-faktor penentu kinerja
lembaga yang berasal dari pengelolaan sistem informasi akademik (efektivitas
manajemen SIA, Budaya TIK, Fasilitas TIK dan kualitas SDM SIA) secara simultan
terhadap kinerja lembaga serta pengaruhnya terhadap prestasi akademik
mahasiswa, sementara pengaruh secara parsial meliputi: (1) pengaruh efektivitas
manajemen Sistem Informasi Akademik terhadap kinerja lembaga; (2) pengaruh
budaya TIK terhadap kinerja lembaga; (3) pengaruh ketersediaan fasilitas TIK
terhadap kinerja lembaga; dan (4) pengaruh kualitas SDM Sistem Informasi
Akademik terhadap kinerja lembaga
2.
Menjelaskan
pengaruh tidak langsung efektivitas manajemen SIA, budaya TIK, ketersediaan
fasilitas SIA dan Kualitas SDM SIA terhadap kinerja lembaga
Hipotesi penelitian, penelitian ini akan menguji beberapa
hipotesis yang terkait dengan permasalahan yang akan diteliti. Adapun hipotesis
yang akan diuji ini yaitu: (1) Terdapat pengaruh efektivitas manajemen sistem
informasi akademik, budaya TIK, ketersediaan fasilitas Sistem Informasi
Akademik, dan kualitas SDM sistem informasi akademik secara simultan
terhadap
|
kinerja lembaga; (2) Terdapat pengaruh langsung dan tidak
langsung efektivitas
|
55
|
Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
|
April 2011
|
manajemen sistem informasi akademik, budaya TIK,
ketersediaan fasilitas Sistem Informasi Akademik, dan kualitas SDM sistem
informasi akademik secara bersama-sama terhadap kinerja lembaga; (3) Terdapat
pengaruh langsung dan tidak langsung efektivitas manajemen sistem informasi
akademik, budaya TIK, ketersediaan fasilitas Sistem Informasi Akademik, dan
kualitas SDM sistem informasi akademik secara bersama-sama terhadap prestasi
akademik mahasiswa; (4) Terdapat pengaruh efektivitas manajemen Sistem
Informasi Akademik terhadap kinerja lembaga;
(4) Terdapat pengaruh budaya TIK terhadap kinerja lembaga;
(5) Terdapat pengaruh ketersediaan fasilitas Sistem Informasi Akademik terhadap
kinerja lembaga; (6) Terdapat pengaruh kualitas SDM Sistem Informasi Akademik
terhadap kinerja lembaga; (7) Terdapat pengaruh efektivitas manajemen Sistem
Informasi Akademik terhadap budaya TIK; (8) Terdapat pengaruh efektivitas
manajemen Sistem Informasi Akademik terhadap ketersediaan fasilitas Sistem Informasi
Akademik; (9) Terdapat pengaruh efektivitas manajemen Sistem Informasi Akademik
terhadap kualitas SDM Sistem Informasi Akademik; (10) Terdapat pengaruh budaya
TIK terhadap ketersediaan fasilitas Sistem Informasi Akademik; dan (11)
Terdapat pengaruh ketersediaan fasilitas Sistem Informasi Akademik terhadap
kualitas SDM Sistem Informasi Akademik;
Kerangka pemikiran penelitian, penelitian ini didasari oleh
kerangka pikir yang menyatakan bahwa penyelenggaraan dan segala usaha yang
dilakukan perguruan tinggi akan berujung atau didedikasikan bagi para klien
atau konsumen mereka, terutama yang utama, yaitu mahasiswa. Upaya manajemen, teaching
and learning, riset, ataupun CSR (Community Service Resposibility)
atau yang lebih dikenal dengan pengabdian pada masyarakat, akan berujung pada
bagaimana melayani para pengguna jasa utama mereka, yaitu mahasiswa. Prestasi
akademik merupakan salah satu indikator kinerja perguruan tinggi disamping
pencapaian 3 misi utama perguruan tinggi, yaitu Tri Dharma Pendidikan yang
meliputi misi pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Kinerja
perguruan tinggi inilah yang menjadi acuan utama dalam proses manajemen
kelembagaan.
Manajemen kelembagaan seperti yang umumnya dilakukan di
perguruan-perguruan tinggi meliputi ranah akademik, fasilitas, keuangan, dan
kemahasiswaan. Upaya manajemen atas ranah-ranah itu dilakukan dengan
mentransformasi segala sumber daya yang dimiliki (man, materials, machine,
methode) untuk menyelenggarakan bidang-bidang tersebut.
Keterlibatan ICT atau diterjemahkan menjadi TIK (Teknologi
Informasi dan Komunikasi) dalam upaya manajemen kelembagaan ini adalah dalam
rangka efektivitas dan efisiensi. Seperti diketahui secara umum, kehadiran TIK
dalam proses manajemen kelembagaan, lembaga apapun bentuknya, termasuk lembaga
non profit seperti perguruan tinggi, sangat membantu efektivitas dan efisiensi
upaya pencapaian yang dilakukann karena fungsinya sebagai tools enabler.
Karena kehandalannya, endurance, dan kemampuan mengingat yang tidak
terbatas, kecepatannya, serta ekonomis, TIK menjadi salah satu pilihan lembaga
saat ini dalam membantu penyediaan dan manajemen, ataupun pertukaran data yang
akan sangat bermanfaat dalam pembuatan keputusan. Bagaimanapun, setiap
aktivitas manajemen kelembagaan ini akan terkait dengan proses
56 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
pembuatan
keputusan, mulai dari yang sangat sederhana, sampai dengan yang kompleks, dari
yang rutin sampai dengan yang generik.
Sebagaimanapun canggihnya atau lengkapnya TIK yang dimiliki
dan diinstalkan lembaga dalam mendukung proses pembuatan keputusan, efektivitas
implementasi ini ditentukan oleh beberapa faktor penentu, yaitu budaya, mutu
SDM, dan sistem manajemen TIK-nya itu sendiri. Budaya memberikan landasan
sosiologis, antropologis, dan psikologis secara tidak langsung terhadap
penerimaan TIK sebagai supporting device pembuatan keputusan yang
dilakukan unsur manusia. Kepercayaan (belief), sikap (attitude),
keinginan (intention), dan hubungan perilaku pengguna (user behaviour
relationship) yang terkait dengan TIK akan memberikan landasan bagi
diterimanya TIK dan digunakan secara efektif.
Faktor mutu SDM TIK merupakan juga faktor penentu lainnya.
Sebaik atau selengkap apapun mesin yang disediakan lembaga dalam membantu
pekerjaan manajerial ataupun yang operasional tidak akan berarti atau memiliki
manfaat yang sedikit jika SDM yang melaksanakan, mengoperasikan, atau mengelola
TIK tersebut berkualitas rendah. Untuk itu, efektivitas penggunaan TIK selain
menyiapkan nilai dan norma yang tercakup dalam budaya, juga perlu mempersiapkan
SDM yang berkualitas tinggi. Yaitu SDM yang well-educated, well tranined,
memiliki etos kerja yang tinggi, motivasi yang tinggi.
Yang terakhir, sistem manajemen TIK. Penataan dan
pendayagunaan sumber daya dalam implementasi TIK merupakan faktor penentu
lainnya. Mulai dari perencanaan sistem, alat, manusia, dan pemilihan strategi
sampai dengan metode implementasi perlu dipikirkan dan dikelola sebaik-baiknya.
Proses implementasi yang selalu dimonitor dan diperbaiki dan ditingkatkan
secara berkelanjutan juga menjamin TIK diimplementasikan secara efektif. Untuk
itulah manajemen TIK sangat diperlukan. Secara garis besar, kerangka pikir ini
digambarkan dalam dalam gambar di bawah ini:
Gambar Kerangka Pemikiran Penelitian
57 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
Sumber dan lokasi penelitian, Populasi dalam penelitian ini
adalah perguruan tinggi di Kota Bandung yang memiliki kriteria sebagai berikut:
(1) PT yang mengadaptasikan TIK dalam sistem administrasi akademik; dan (2) PT
yang mengelola program strata-1 (S1) meliputi: Sekolah Tinggi, Institut dan
Universitas.
Penyebarannya
Perguruan Tinggi di Kota Bandung baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Tabel. Penyebaran Populasi Penelitian
No.
|
Jenis PT (Negeri/Swasta)
|
Jumlah
|
SIA-
|
SIA-Non TIK
|
|
Enabled
|
Enabled
|
||||
1
|
Universitas
|
19
|
12
|
7
|
|
2
|
Institut
|
6
|
5
|
1
|
|
4
|
Sekolah Tinggi
|
59
|
15
|
39
|
|
Jumlah PT (Negeri & Swasta)
|
84
|
37
|
47
|
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportionate
random sampling (Sampel Acak secara Proporsional) berdasarkan bentuk
perguruan tinggi (Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas). Sampel akan
diambil dari setiap bentuk perguruan tinggi secara proporsional.
Tidak semua perguruan tinggi yang diidentifikasi telah
menerapkan TIK dapat dijadikan responden. Beberapa perguruan tinggi sedang
melakukan upgrading system sehingga menolak/keberatan untuk dilakukan
penilaian jadi perguruan tinggi yang layak dijadikan populasi dalam penelitian
ini berjumlah 22. Selanjutnya penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Yamane
(1967: 258) sebagai berikut:
Dimana:
n
= jumlah sampel N = jumlah populasi
d2= presisi (ditetapkan 10 % dengan tingkat kepercayaan
95%).
Berdasarkan rumus di atas, maka diperoleh jumlah sampel
sebagai berikut:
n
= 18.033 (dibulatkan menjadi 18). Jumlah sampel hasil perhitungan di atas
kemudian dilakukan perhitungan proporsi jumlah sampel pada setiap kelompok
berdasarkan bentuk perguruan tinggi yaitu :
1. Jumlah sampel pada bentuk
perguruan tinggi Universitas adalah : 9
2. Jumlah sampel pada bentuk
perguruan tinggi Institut adalah : 2
3. Jumlah sampel pada bentuk
perguruan tinggi Sekolah Tinggi adalah : 7
Perguruan
tinggi yang dapat dijadikan sampel adalah 18 perguruan tinggi. Selanjutnya pada
masing-masing perguruan tinggi dilakukan pengambilan sampel yang meliputi dosen
dan mahasiswa.
April 2011
Subjek dari penelitian sebagai responden dalam penelitian
ini adalah para pengelola TI khususnya dibidang sistem informasi akademik mulai
dari pimpinan sampai dengan pelaksana, dosen dan mahasiswa.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif analitik yang berjenis survei dengan pendekatan kuantitatif
untuk mengkaji hubungan dan pengaruh antar variabel yakni tentang pengaruh
efektivitas manajemen SIA (X1),
budaya TIK (X2),
ketersediaan fasilitas TIK X3),
dan kualitas SDM SIA (X4)
terhadap kinerja perguruan tinggi (Y) dan dampaknya terhadap prestasi akademik
mahasiswa (Z) pada perguruan tinggi di Kota Bandung yang dijadikan objek
penelitian.
Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik statistik, baik
statistik deskriptif ataupun inferensial untuk eksplanasi. Statistik deskriptif
digunakan untuk menggambarkan/ menyajikan data tentang keterlaksanaan sistem
informasi akademik yang berbasis TIK di lembaga (perguruan tinggi), serta
deskripsi tentang efektivitas manajemen Sistem Informasi Akademik, Budaya TIK,
Ketersediaan Fasilitas TIK, Kualitas SDM Sistem Informasi Akademik, kinerja
perguruan tinggi, dan prestasi akademik mahasiswa. Statistik inferensi
digunakan untuk menguji beberapa hipotesis yang diajukan. Analisis inferensial
yang dilakukan terhadap hipotesis penelitian dinyatakan dalam bentuk hipotesis
nihil. Teknik statistik ini tidak langsung untuk menguji hipotesis alternatif,
tetapi akan digunakan untuk menolak atau menerima hipotesis nihil.
59 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan
studi dokumentasi. Angket menjadi alat utama, yang terdiri dari angket untuk
para kepala pengelola biro akademik dan pengelola sistem informasi kelembagaan,
para pelaksana sistem informasi akademik, dosen dan mahasiswa. Metode
dokumentasi untuk menjaring data data yang relevan dengan subjek penelitian
yang sudah terdokumentasikan, seperti hasil studi mahasiswa, organigram, dan
dokumen terkait lainnya.
Data kualitatif yang didapat, juga akan dijadikan sandaran
dalam melakukan pemaknaan secara logis melalui induktif atas penafsiran data
kuantitatif. Ini juga ditujukan untuk menemukan pola atau kecenderungan dan
sebagainya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini mengkaji faktor-faktor penentu kinerja
lembaga yang berasal dari Manajemen Sistem Informasi akademik yang terdiri dari
variabel Efektivitas Manajemen Sistem Informasi Akademik (X1), Budaya TIK (X2), Ketersediaan Fasilitas (X3), Kualitas SDM (X4), pengaruhnya terhadap
variabel Kinerja Perguruan Tinggi (Y).
Berikut hasil resume deskripsi variabel-variabel penelitian
yang telah dikaji yaitu: (1) Variabel efektivitas manajemen SIA (X1) dikategorikan tinggi oleh
kelompok manajemen lembaga, dosen ataupun mahasiswa; (2) Variabel budaya TIK (X2) dikategorikan tinggi oleh
lembaga, dosen dan mahasiswa; (3) Variabel ketersediaan fasilitas SIA (X3) dikategorikan kurang
tinggi; (4) Variabel kualitas SDM SIA (X4) dikategorikan tinggi oleh
semua kelompok sampel; dan (5) Variabel kinerja perguruan tinggi (Y)
dikategorikan kurang tinggi oleh semua kelompok sampel, dan
Hasil pengujian hipotesis
menunjukkan bahwa: (1) Pengaruh variabel efektivitas manajemen SIA (X1),
Budaya TIK (X2),
Ketersediaan Fasilitas TIK (X3),
dan Kualitas SDM SIA (X4)
terhadap Kinerja Perguruan Tinggi secara bersama-sama berdasarkan penilaian
manajemen lembaga menunjukkan pengaruh yang signifikansebesar 71,35%; (2)
Pengaruh variabel efektivitas manajemen SIA (X1),
Budaya TIK (X2),
Ketersediaan Fasilitas TIK (X3),
dan Kualitas SDM SIA (X4)
terhadap Kinerja Perguruan Tinggi secara bersama-sama berdasarkan penilaian
dosen secara bersama-sama berpengaruh signifikan dengan besarnya sumbangan
sebesar 77,5%; (3) Pengaruh variabel efektivitas manajemen SIA (X1),
Budaya TIK (X2),
Ketersediaan Fasilitas TIK (X3),
dan Kualitas SDM SIA (X4)
terhadap Kinerja Perguruan Tinggi secara bersama-sama berdasarkan penilaian
mahasiswa, secara bersama-sama berpengaruh signifikan sebesar 83,0%; (4) Pada
uji individual ternyata variabel Ketersediaan Fasilitas TIK (X3)
dan Kualitas SDM Sistem Informasi Akademik (X4)
yang berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Perguruan Tinggi. Variabel
efektivitas manajemen SIA (X1),
dan Budaya TIK (X2),
tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Perguruan Tinggi (Y); (5)
Variabel kinerja perguruan tinggi (Y) memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap prestasi akademik mahasiswa (Z) pada PT di Kota Bandung dengan total
pengaruh yang diberikan adalah sebesar 51,4% menurut penilaian manajemen
lembaga.
60 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
Pengembangan sistem informasi
akademik yang efektif, budaya TIK, ketersediaan Fasilitas TIK, dan Kualitas SDM
SIA memberikan kontribusi yang tinggi terhadap kinerja lembaga secara umum.
Efektivitas manajemen SIA, Budaya TIK, Ketersediaan Fasilitas TIK, dan Kualitas
SDM SIA secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja Perguruan Tinggi pada
semua kategori penilaian baik menurut manajemen lembaga, dosen dan mahasiswa.
Tetapi dari sampel dosen, setelah diuji secara simultan ternyata faktor
manajemen SIA, budaya TIK, ketersediaan fasilitas, dan kualitas sumber daya
manusia tidak signifikan berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa. Hal
ini bisa dijelaskan dari konteks subjektif bahwa kehadiran sistem informasi akademik
hanya berdampak pada sistem pelayanan pada mahasiswa/dosen/atau stakeholder
yang tidak terkait dengan implementasi kurikulum dimana produk akhirnya adalah
capaian atas serapan materi/substansi kurikulum yang disampaikan dosen dalam
bentuk prestasi akademik.
Setelah dilakukan uji individual ternyata variabel
Ketersediaan Fasilitas TIK (X3) dan Kualitas SDM Sistem
Informasi Akademik (X4) yang berpengaruh secara
signifikan terhadap Kinerja Perguruan Tinggi. Variabel efektivitas manajemen
SIA (X1),
dan Budaya TIK (X2), tidak berpengaruh
signifikan terhadap Kinerja Perguruan Tinggi (Y). Hal ini sejalan dengan Hal
ini sejalan dengan model kinerja dari Sutermeister (1976:45) yang menyatakan
bahwa produktivitas lembaga itu dipengaruhi oleh kinerja pegawai dan teknologi.
Unsur teknologi yang diwakili oleh variabel kelengkapan fasilitas TIK.
Variabel efektivitas manajemen SIA yang diukur melalui
parameter perencanaan organisasi SIA, Implementasi SIA, monitoring dan
evaluasi, kualitas informasi yang dihasilkan serta kualitas sistem memberikan
kontribusi pengaruh secara langsung terhadap kinerja lembaga dikategorikan
rendah
Pengaruh tidak langsung melalui variabel budaya TIK justru
memberikan kontribusi yang negatif. Hal ini mencerminkan bahwa efektivitas implementasi
SIA berbasis TIK mensyaratkan bahwa semua orang telah dalam kondisi siap dalam
hal ketrampilannya, sikapnya, persepsinya serta iklim kerjanya. Apabila hal
tersebut belum dipenuhi maka hal ini dapat memberikan kontribusi yang negatif
bagi kinerja lembaga.
Hal ini sejalan dengan pendapat Jasperson dkk (2005) bahwa
apabila implementasi TIK yang dijalankan lembaga kurang memperhatikan aspek
budaya yaitu budaya baru orang-orang ataupun organisasi karena kehadiran TIK
dalam lingkungan mereka maka hal ini akan mengakibatkan inefektivitas dan
inefisiensi implementasi TIK pada berbagai aspek manajemen terjadi.
Efektivitas
SIA dalam menunjang kinerja lembaga akan berkurang kontribusinya jika fasilitas
sarana dan infrastruktur TIK tidak dalam kondisi yang memadai. Keterbatasan
fasilitas dan infrastruktur TIK pada beberapa perguruan tinggi yang dikaji
terutama disebabkan karena keterbatasan anggaran dalam memenuhi
perangkat-perangkat pendukung yang dipersyaratkan. Investasi TIK dalam proses
manajemen SIA membutuhkan biaya yang banyak meskipun investasi
61 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
TIK
telah menjadi trend di setiap organisasi saat ini. Beberapa perguruan tinggi
masih dalam tahap awal dalam implementasi TIK ini.
Budaya TIK masih memberikan kontribusi kecil terhadap
kinerja karena pada perguruan tinggi yang masih baru dalam penerapan TIK pada
manajemen perguruan tinggi lebih berkonsentrasi pada penyiapan investasi pada
asset dan kurang memperhatikan penyiapan pada aspek budaya itu sendiri.
Besarnya energi yang dicurahkan oleh lembaga dalam membiayai dan mengelola TIK
ini mengakibatkan organisasi kurang begitu bisa memanfaatkan fungsi potensial
dari aplikasi TIK yang mereka install dalam lembaganya. Lembaga memanfaatkan
fungsi sempit dari TIK, menjalankan penggunaan feature TIK dalam level yang
sangat rendah, jarang memprakarsai technology or task related extension
dari feature yang tersedia dalam TIK
Jika berkaca pada pentahapan bagaimana individu menguasai
TIK yang dikelompokan pentahapannya oleh UNESCO (2002: 16) maka PT yang ada di
kota Bandung menyebar pada ke empat tahapan terebut, namun pada beberapa
perguruan tinggi civitas akademika perguruan tinggi (dosen, manajemen, dan
mahasiswa) sudah sampai pada tahapan penguasaan C dan D, yaitu memahami
bagaimana dan kapan menggunakan perangkat TIK untuk melakukan suatu tugas
tertentu (keterampilan C), dan sudah menguasai secara spesifik kegunaan
perangkat TIK (keterampilan D).
Gambar. Model Pentahapan Penguasaan Keterampilan ICT dalam
Pendidikan (Diadopsi dari UNESCO, 2002).
Ketersediaan fasilitas TIK memberikan kontribusi yang
signifikan dan cukup besar dalam menunjang kinerja lembaga. Selama dua dekade
ini perguruan tinggi telah melakukan investasi besar-besaran dalam TIK. Sarana
dan prasarana pendukung serta semua hal yang dibutuhkan sebagai syarat
berjalannya perangkat-perangkat SIA perguruan tinggi tersedia di lembaga
(misalnya ketersediaan komputer, network, sistem koneksi dan bandwidth).
Ketergantungan PT terhadap TIK dari hari ke hari semakin tinggi. TIK dianggap
tulang punggung proses pelayanan akademik dan administrasi akademik kepada
mahasiswa, dosen dan stakeholder lainnya.
Kualitas SDM SIA memberikan
kontribusi pengaruh yang paling dominan dibandingkan variabel-variabel lainnya
pada pengelolaan SIA PT dalam mempengaruhi kinerja perguruan tinggi. Kontribusi
tidak langsung efektivitas manajemen SIA memberikan pengaruh yang positif
terhadap kinerja lembaga melalui variabel SDM SIA. Hal ini mengambarkan bahwa
aspek manusia memegang peranan penting dalam implementasi SIA terutama dalam
menentukan kinerja
62 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
lembaga
meliputi jumlah orang yang menangani sistem, pendidikan dan pengalaman yang
mereka miliki terkait dengan bidang yang mereka selenggarakan.
Jika dicermati kontribusi tidak langsung SDM SIA melalui
variabel efektivitas manajemen SIA terhadap kinerja perguruan tinggi bisa
dikaitkan dengan kepuasan pengguna. Ketika para pekerja puas terhadap sistem
informasi dan mengintegrasikan sistem informasi ke rutinitas mereka, maka
sistem informasi menjadi efektif. Kepuasaan mereka ini ditentukan oleh dua hal
yaitu mutu sistem informasi dan mutu informasi. Mutu sistem informasi mengacu
pada kemudahan penggunaannya. Jika pekerja atau pegawai menganggap suatu sistem
informasi mudah digunakan maka sistem informasi tersebut bisa dikatakan bermutu
tinggi. Mutu informasi, disisi lain mengukur derajat informasi yang dihasilkan
sistem informasi akurat dan dalam format yang dikehendaki oleh pengguna.
Kontribusi kualitas SDM SIA melalui variabel budaya TIK
memberikan pengaruh yang positif terhadap kinerja. Kompetensi pekerja yang
tinggi memberikan keyakinan bahwa pemanfaatan sistem informasi berbasis TIK
akan memberikan banyak kemudahan dalam menghasilkan layanan yang berkualitas.
Hal ini tentu akan semakin mendorong para pegawai semakin termotivasi untuk
meningkatkan kinerja melalui integrasi sistem dalam pelaksanaan tugas dan
semakin memunculkan kreativitas dalam menghasilkan layanan-layanan yang bermutu
kepada pengguna
Berdasarkan kajian teoritis dan fakta empiris yang digali
dalam penelitian ini, peneliti mencoba menawarkan suatu model hipotetik tentang
pengelolaan sistem informasi akademik perguruan tinggi. Model ini dijelaskan
dalam skema berikut ini:
Sistem informasi akademik perguruan tinggi merupakan modul
bagian dari sistem informasi manajemen perguruan tinggi. Kedudukannya setara
dengan modul-modul lain, seperti kepegawaian, keuangan, kemahasiswaan, atau
sarana prasarana. Dalam perjalanannya, sistem informasi tersebut berjalan
berdasarkan rencana strategis perguruan tinggi yang memberikan arahan tentang
hal-hal yang harus dicapai baik jangka pendek ataupun jangka panjang.
Peranan rencana strategis ini sangat penting dalam rangka
mengendalikan jalannya sistem informasi manajemen, ataupun secara umum jalannya
roda lembaga perguruan tinggi. Saat ini trend kemajuan teknologi seolah tidak
terkendali, melaju dengan cepat dan sangat luas cakupannya. Jika tidak ada rute
dan batasan-batasan yang memberikan arahan pada proses pengelolaan informasi di
level manajerial atau operasional perguruan tinggi, maka ini bisa mengancam
masa depan pencapaian tujuan pendidikan di perguruan tinggi.
63 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
Dalam
konteks lain, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketatnya persaingan
mendapatkan calon mahasiswa dan memasarkan lulusan membuat perguruan tinggi
ditantang untuk mengembangkan suatu strategi-strategi ampuh yang bisa berjalan
secepatnya dan berumur efektif panjang. Mereka harus memiliki banyak keunggulan
yang bisa menjamin eksistensi lembaga lebih panjang. Semua taktik, strategis,
cita-cita, dan tujuan-tujuan terkumpul dalam bentuk rencana strategis. Ward dan
Bond (2006) menyatakan bahwa untuk mendukung strategi bisnis sebuah korporasi
memerlukan strategi sistem informasi.
Untuk mencapai Sistem Informasi Akademik yang berjalan
efektif, mampu membantu stakeholder internal ataupun eksternal dengan
menyediakan informasi yang akurat, cepat, dan cukup, diperlukan sumber daya
manusia yang handal. SDM sistem informasi akademik yang handal ditentukan oleh
beberapa faktor yaitu budaya TIK positif yang berkembang di konteks SIA itu
berada (lingkungan perguruan tinggi), Pendidikan dan Pelatihan SDM, Sistem
Reward, dan Standar Kompetensi personel SIA.
Mengacu pada defenisi budaya TIK yang digambarkan oleh
Slamet dan kawan-kawan (2008:51), budaya TIK yang positif bisa dilukiskan
dengan suatu keadaan dimana warga perguruan tinggi menganut nilai-nilai,
kebiasaan, yang menggambarkan mereka melek dan sadar akan TIK. Mereka tahu
fungsi, makna, dan filosofi dari TIK dan mampu mengadaptasikannya dengan
keseharian mereka. Selain itu, suasana kerja di perguruan tinggi menggambarkan
dimana komponen perguruan tinggi tersebut (orang, tugas, proses interaksi,
perilaku organisasi) terikat dan familiar dengan TIK. Jika budaya TIK sudah positif
berkembang di lingkungan perguruan tinggi, tentu ini akan menjadi athmospher
segar bagi sistem informasi akademik khususnya, informasi manajemen pada
umumnya bisa berjalan dengan efektif.
Pendidikan dan pelatihan merupakan syarat penting penciptaan
sumber daya manusia yang kompeten. Pendidikan dan pelatihan tidak hanya
membekali wawasan keilmuan dan keterampilan yang terkait dengan operasionalisai
manajemen sistem informasi akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
profesional profesi pengelola sistem informasi akademik. Dengan pendidikan dan
pelatihan, tak hanya memberikan ilmu baru, tetapi juga memberikan penyegaran
tentang kompetensi yang dimiliki personalia sistem informasi akademik.
Pendidikan dan pelatihan ini merupakan investasi jangka panjang
bagi keberlangsungan sistem informasi akademik perguruan tinggi.
Sistem reward dimaksudkan sebagai mekanisme pendorong bagi
para personel untuk lebih bergairah dalam bekerja, memiliki etos kerja yang
tinggi, bertanggung jawab, dan tentu sejahtera. Sistem reward tidak hanya
berupa sistem imbalan materi saja, tetapi juga sistem promosi atau demosi
jenjang karir. Hal tersebut bisa memperbaiki suasana psikologis para personel
sistem informasi akademik. Turn over dan brain drain merupakan
salah satu target dari dari sistem reward ini. Selama ini, profesi IT merupakan
profesi yang masih cukup langka. Salah satu strategi yang cukup mampu
mempertahankan para tenaga terlatih ini tetap tinggal di lembaga adalah dengan
sistem reward tersebut.
Standar kompetensi merupakan
hal penting terkait dengan profesionalisme sumber daya manusia sistem informasi
akademik. Standar kompetensi merupakan pernyataan-pernyataan mengenai
pelaksanaan tugas-tugas di tempat kerja yang berisikan hal-hal yang diharapkan
bisa dilaksanakan oleh para petugas sistem informasi akademik. Tak hanya itu,
standar kompetensi ini juga memuat tentang deskripsi tingkat kesempurnaan
pelaksanaan kerja yang diharapkan dari para
64
|
Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
|
April 2011
|
petugas
SIA. Selain itu, standar kompetensi juga bisa dijadikan pedoman penilaian
kemampuan personel. Tambahannya, Standar kompetensi profesi SIA berguna untuk
efisiensi dan membuat pendidikan dan pelatihan keterampilan SIA menjadi lebih relevan.
Seperti diutarakan oleh Sutermeister (1976:45) bahwa
keberadaan teknologi penting bagi pencapaian tugas-tugas organisasi, keberadaan
parangkat TIK dalam pengelolaan sistem informasi akademik cukup penting.
Kemampuan bekerja yang cepat, bisa memproses data dengan amat banyak dan bisa
bekerja 24 jam menjadi salah satu keunggulan dari sarana TIK ini. Kecanggihan
atau kemutakhiran gadget TIK bukan jaminan pengerjaan pekerjaan-pekerjaan SIA
efektif. Pemilihan hardware dan software yang tepat adalah kuncinya. Selain
itu, cara pemeliharaan dan penanganan sistem kemanan juga harus diperhatikan
agar keberlangsungan dari pemanfaatan sarana TIK ini bisa lebih lama.
Peran database sebagai penampung dan mendistribusikan data
yang akan dan telah diolah menjadi informasi sangat penting sekali. Ia akan
secara simultan bekerja melayani semua pihak yang berkepentingan dengan
informasi akademik. Data base yang baik adalah data base yang manajemen
databasenya mendukung proses pembuatan keputusan. Dalam proses pelayanan,
pengguna yang mengakses sistem informasi akademik akan senantiasa disokong oleh
aliran-aliran data dan informasi yang berasal dari data base. Selain itu,
input-input yang mereka masukan ke sistem informasi akademik juga akan
tersimpan di data base. Bagi lembaga, data base diibaratkan sebagai gudang
penyimpanan harta yang sangat berharga. Gudang itu harus benar sistem manajemen
inventorinya, sistem keamanannya, dan tentunya penataan barang-barang (data)
yang akan disimpan di dalamnya.
Data base ini dengan melalui bantuan teknologi disuplai dari
berbagai sumber pengguna. Ia memuat tentang data kemahasiswaan, akademik,
ketenagaan, keuangan, dan data pendukung lainnya. Secara bersama-sama ia akan
digunakan oleh berbagai modul aplikasi manajemen sistem informasi yang
diaplikasikan lembaga. Dengan interface dan integrator teknologi proses input
dan komunikasi data/informasi berjalan bolak balik dari sumber ke server diolah
dan disebarkan kembali ke pengguna. Input data berupa profil diri mahasiswa,
profil akademiknya, beban tugas mengajar dosen, jadwal kuliah, atau yang
lainnya diinputkan kedalam database yang terinstal di server, kemudian dengan
sistem diolah menjadi berbagai macam informasi dan pengetahuan, misalnya
menjadi kartu hasil studi, rencana studi, pembagian penjadwalan ruangan kelas,
ringkasan beban mengajar dosen, atau yang lainnya.
KESIMPULAN
1.
Keempat
variabel yang diteliti meliputi efektivitas manajemen SIA (X1), Budaya TIK (X2), Ketersediaan Fasilitas TIK
(X3),
Kualitas SDM SIA (X4) secara simultan memberikan
pengaruh yang signifikan dan memiliki sumbangan yang sangat besar terhadap
kinerja lembaga. Kesimpulan ini didukung oleh tiga sumber data pendukung, yaitu
menajemen lembaga, dosen, dan mahasiswa.
2.
Jika diteliti sumbangannya secara
individual dari keempat variabel penelitian tersebut maka hanya variabel
ketersediaan Fasilitas TIK (X3)
dan Kualitas SDM SIA (X4)
yang memiliki sumbangan yang besar dan signifikan. Efektivitas sistem dan
budaya organisasi tidak memiliki sumbangan yang signifikan terhadap kinerja
lembaga. Keempat variabel (SIA yang
efektif, budaya organisasi, ketersediaan fasilitas SIA, dan
kualitas SDM SIA) memiliki
65 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011
sumbangan yang besar terhadap
kinerja jika keempatnya hadir bersama-sama. Artinya, jika hanya ada salah satu,
atau beberapa saja, sedikit sumbangannya terhadap kinerja lembaga.
Rekomendasi
1.
Rencana
strategis TIK lembaga harus merupakan bagian integral dari rencana induk
kelembagaan secara umum. Keterkaitannya dengan setiap bidang/unit yang ada di
lembaga harus dengan jelas dideskripsikan. Hal ini akan berdampak pada
efektivitas rensta TIK nya itu sendiri dan lembaga atau unit yang terkait dalam
menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Renstra TIK yang dikembangkan
harus mampu menjamin proses knowledge management berjalan dengan
efektif di lembaga. Menjadikan lembaga menjadi pusat penciptaan dan
penyimpanan pengetahuan dan proses transfer of knowledge diantara
individu dalam lembaga.
2.
Bagi
penelitian selanjutnya, direkomendasikan untuk meneliti tentang kematangan TIK
perguruan tinggi. Diharapkan hasil penelitian ini akan mampu menjawab atau
menjelaskan sejauhmana sistem informasi yang dijalankan mampu mendukung visi
dan misi lembaga. Selain itu, sejauhmana sistem yang dikembangkan bisa
mendukung kinerja dan meningkatkan kualitas lembaga.
3.
Revitalisasi
sumber daya yang dimiliki, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan
reposisi visi dan misi perguruan tinggi serta sejauhmana rencana strategis itu
dikawal dan mencapai target yang telah ditentukan merupakan salah satu upaya
yang direkomendasikan dalam meningkatkan kinerja perguruan tinggi.
4.
Penyiapan
kebijakan terkait dengan implementasi TIK dalam sistem informasi sangat penting
mengingat perannya sebagai pedoman dan juga penguat atas proses dan produk yang
dihasilkan sistem informasi akademik, termasuk kemampuannya memaksakan
kebiasaan atau pola baru kepada individu di lembaga yang terkait dengan sistem
informasi akademik berbasis TIK. Perubahan mekanisme administrasi akademik akan
lebih masuk kedalam jiwa setiap individu jika diberi penguatan dengan kebijakan
yang mengikat.
5.
Penyiapan
budaya Sistem Informasi Akademik berbasis TIK juga perlu ditanamkan pada setiap
individu yang ada dilembaga. Bagi para pembuat kebijakan/keputusan, termasuk
para dosen, produk sistem informasi akademik harus benar-benar dijadikan bahan
atau sandaran dalam memecahkan permasalahan atau membuat kebijakan terkait
dengan peningkatan kinerja lembaga. Mereka diharapkan memiliki pemahaman yang
memadai akan filosofi diterapkannya sistem informasi akademik berbasis TIK,
memahami mekanisme dan manfaat serta tahu bagaimana melakukannya.
6.
Direkomendasikan,
lembaga secara berkala dan terencana dengan baik untuk terus meningkatkan dan
menjaga profesionalisme para pengelola sistem informasi akademik melalui
pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan bidang tugasnya. Selain itu, pengelolaan
SDM sistem informasi akademik juga harus lebih baik lagi. Mulai dari man
power planning, diklat, sampai dengan sistem reward harus dijalankan dan
didesain agar sesuai dan mendukung efektivitas sistem informasi
akademik.
DAFTAR
PUSTAKA
Al
Rasyid,
Harun, (Penyunting: Teguh Kismantoroadji, dkk). 1994. Dasar-Dasar.
Statistika
Terapan,
Program Pascasarjana, Unpad : Bandung.
|
|
66
|
Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
|
April 2011
|
Daft, R.L., Sormunen, J. and Parks, D. 1988, "Chief
executive scanning, environmental characteristics, and company performance: an
empirical study", Strategic Management Journal, Vol. 9 No. 2, pp. 123-39.
Jasperson, J. Carter, P.E. Zmud, R.W. 2005. A Comprehensive
Conceptualization of Post-Adoptive Behaviors Associated with Information
Technology Enabled Work Systems. MIS Quarterly, Sept. 2005; 29,3. ABI/INFORM
Global pg. 525.
Kuratko, D., Goodale, J. and Hornsby, J. 2001. "Quality
practices for a competitive advantage in smaller firms", Journal of Small
Business Management, Vol. 39 No. 4, pp. 293-311.
Levin, H.M. dan Schütze, 1983. H.G. (Ed.) Financing
Recurrent Education, Strategies for Increasing Employement, Job
Opportunities, and Productivity. Beverly Hills: Sage Publication.
Levin,H.M. 1983 Individual Entitlements. Dalam.
Financing Recurrent Education, Strategies for Increasing Employement,
Job Opportunities, and Productivity. Halaman 39 - 66. Levin, H.M.
dan Schütze (ed.), H.G Beverly Hills: Sage Publication.
Liao, J., Welsch, H. and Stoica, M. 2003,
"Organizational absorptive capacity and responsiveness: an empirical
investigation of growth-oriented SMEs", Entrepreneurship Theory &
Practice, Vol. 28, pp. 63-85.
Murdich, R.G., and Joel, R. 1982. Information System for
Modern Management. 2nd Edition, Prentice Hall of
India New Delhi.
Murdick, R.G., Ross, J.E., Claggett, J.R. 1996. Sistem
Informasi untuk Manajemen Modern. Edisi Ketiga. Diterjemahkan oleh: Djamil.
Jakarta: Penerbi Erlangga.
Slamet, Razak Abdul, Deraman A. 2008. Mengeliminasi
Resistensi Masa menuju Berbudaya ICT pada Organisasi Publik Pendekatan Kurt
Lewin. Dalam Makalah-makalah Sistem Informasi. Bandung: Penerbit
Informatika.
Sutermeister, Robert A. (1976). People and Productivity. New
York : Mc Graw Hill. Book Company
UNESCO.
2002. Information And Communication Technology In Education, A Curriculum
For Schools And Programme Of Teacher Development. France: UNESCO
Ward, J.P. Taylor and P. Bond. 2006. Evaluation and Realisation
of IS/IT Benefits: an Empirical Study of Current Practice. European
Journal Information System. 4. Pages 214-225.
Yamane,
T. 1967. Statistics, an Introductory Analysis. 2 nd Ed. New York : Harper and
Row
BIODATA
SINGKAT
Penulis
adalah Mahasiswa S3 Adpend UPI, Dosen IPDN
67 Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1
April 2011




Tidak ada komentar:
Posting Komentar